(MahadanaNews) Pertumbuhan produksi industri dan investasi aset tetap China melambat lebih dari yang diharapkan pada bulan November, menurut data yang dirilis pada Jumat, meningkatkan kekhawatiran bahwa kondisi memburuk dan berpotensi peluang untuk stimulus lebih lanjut oleh Beijing.
Juga dirilis pada Jumat siang adalah data yang menunjukkan percepatan mengejutkan dalam laju pertumbuhan penjualan ritel, sementara inflasi data yang keluar sebelumnya menunjukkan inflasi harga mendingin lebih dari yang diharapkan.
"Dengan inflasi yang jatuh, dan pertumbuhan terus melambat, pelonggaran kebijakan selektif lebih lanjut sepertinya akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Namun, kita tidak mengharapkan untuk melihat pembalikan dalam skala penuh pada pengaturan kebijakan," kata analis Royal Bank of Canada Brian Jackson, seperti yang dikutip MarketWatch.
Produksi industri untuk bulan November naik 12,4% dari tahun sebelumnya, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional China. Hasilnya dibawah perkiraan pertumbuhan 12,8% dan 12,5%, menurut survei yang terpisah dari Reuters dan Dow Jones Newswires.
Hasil ini juga menandai pertumbuhan melambat dari bulan Oktober sebesar 13,2%.
Investasi aset tetap di daerah perkotaan, indikator yang diawasi seksama pada ekonomi China, naik 24,5% selama periode Januari hingga November, berkurang dari 24,9% pada periode Januari-ke- Oktober, dan gagal menyamai perkiraan Reuters di 24,7%.
Data lain yang dirilis menunjukkan kenaikan umum dalam penjualan ritel, yang naik 17,3% tahunan pada bulan November, dibandingkan dengan kenaikan 17,2% pada bulan Oktober.
Analis Bank of America-Merrill Lynch Ting Lu mengatakan bahwa data belanja ritel menunjukkan permintaan konsumen adalah "cukup kuat," meskipun pengeluaran pada penjualan mobil sedikit melemah.
Dia mengatakan hasil tersebut cukup mengesankan ketika disesuaikan dengan penurunan tajam dalam inflasi selama bulan tersebut.
Peritel besar melaporkan bahwa pengeluaran untuk makanan dan minuman melonjak 24,7% pada November dari tahun sebelumnya, sedangkan alat pengeluaran rumah tangga melonjak 25%.
Data inflasi yang dirilis menunjukkan indeks harga konsumen bulanan naik 4,2% dari periode tahun lalu, melambat signifikan dari kenaikan bulan Oktober sebesar 5,5%. Indeks harga produsen mengurangi laju kenaikannya ke 2,7% dari peningkatan 5% pada Oktober.
Analis di IHS Global Insight menyebut jatuhnya inflasi adalah "agresif", dengan mengatakan harga grosir yang "hampir runtuh," atau bahkan menhadapi deflasi pada basis bulanan.
Para analis IHS mengatakan distorsi yang diciptakan oleh angka-angka inflasi tahun lalu dapat menyebabkan rasa aman palsu bahwa pertempuran dengan inflasi sudah dimenangi, dengan mengatakan mungkin "terlalu dini bagi China untuk mengklaim kemenangan penuh atas inflasi."
Namun, data mungkin akan memperkuat pandangan di kalangan kepemimpinan eksekutif China bahwa kondisi dapat untuk mengurangi kebijakan secara lebih luas.
"Ada kemungkinan yang menjadi konsensus dimana berkembang di tingkat pejabat senior mengenai terus menurunkan rasio persyaratan cadangan perbankan. Pada gilirannya, ini akan memungkinkan pinjaman bank yang lebih kuat ke 2012, mendorong pertumbuhan," tulis analis IHS.
RBC Jackson mengatakan sebagian data pada Jumat ini mendukung pandangan bahwa China melihat penurunan bertahap daripada pendaratan keras, meskipun ia mengingatkan dari risiko penurunan "akut", mengutip prospek perlambatan ekonomi di zona euro menjadi kekhawatiran utama.
Â
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
- 17/11/2011 15:03 - Permintaan Emas Dunia Naik 6% Di Kuartal Tiga: WGC
- 15/11/2011 14:02 - IMF: Perbankan China Rentan
- 30/09/2011 14:01 - Bursa Saham Global Pulih Tahun Depan: Survei
- 01/07/2011 12:55 - Dow Jones Terbaik Di Semester I 2011, Brasil Terburuk
- 28/06/2011 09:37 - Selayang Pandang Krisis Utang Yunani

