MahadanaNews.com

Bailout Bukan Untuk Yunani

E-mail
(MahadanaNews) Dana talangan Yunani telah mendapat persetujuan Uni Eropa awal pekan ini. Namun, bailout ini dikabarkan bukan untuk negara tersebut. Benarkah?

Bailout ini bukan untuk Yunani, tetapi untuk Jerman, Perancis dan bank-bank asing lain, yang dengan sengaja dibiarkan untuk membeli lebih banyak utang Yunani. “Bahkan, yang diluar perkiraan analis keuangan dapat dipertahankan negara tersebut,” ujar Darrell Delamaide, kolumnis masalah-masalah politik yang mempengaruhi pasar.

Bantuan senilai 130 miliar euro (US$ 171,9 miliar) telah mendapat persetujuan menteri keuangan Eropa dalam pertemuan mereka, Namun, dana ini akan masuk dalam akun yang dikelola untuk memastikan dana itu langsung menuju kreditur Yunani, ketika obligasinya jatuh tempo.

Perjanjian tersebut dibuat, ketika sepekan sebelumnya, Parlemen Yunani menyetujui paket langkah-langkah penghematan ekstrim. Dalam hal ini, mereka serta para menteri keuangan Eropa lain, sadar bahwa masalah keuangan di negara Para Dewa ini tidak dapat terselesaikan.

Antonis Samaras, pemimpin partai New Democracy, mendesak anggota partainya untuk mengambil langkah-langkah penghematan demi mendapatkan bailout, dan kemudian dapat dinegosiasi ulang setelah pemilu Yunani pada April.

Dalam politik Yunani yang berantakan, pihak Samaras memang unggul dalam jajak pendapat, namun diperkirakan tidak akan memenangkan suara mayoritas.

Meskipun Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schuble memimpin pertemuan untuk memacu penghematan lebih banyak dari rakyat Yunani, ekonom terkemuka Jerman tersebut mencap bailout tersebut sebagai "ilusi" dan mengatakan jenis deflasi yang dituntut dari Yunani tidak realistis.

Ketika ditanya dalam sebuah wawancara dengan Spiegel Online apakah bailout baru bisa menyelamatkan Yunani, ekonom Hans-Werner Sinn menjawab, "Tidak, dan para politisi tahu itu tidak bisa."

Sinn, yang mengepalai Ifo Institute untuk Riset Ekonomi yang bergengsi dan profesor di University of Munich, mengatakan bailout hanyalah cara untuk mengulur waktu.

Dia pikir waktu dan uang akan lebih baik dihabiskan membantu keluarnya Yunani dari euro, karena satu-satunya cara suatu negara mengembalikan daya saing ekonominya adalah melalui devaluasi besar-besaran. Dan itu berarti, Yunani perlu memiliki mata uang sendiri.

Devaluasi memang akan memilukan dan memicu kesengsaraan ekonomi selama satu atau dua tahun, tapi Sinn menilai pilihan itu lebih baik, ketimbang dekade penghematan dalam rencana bailout. "Setelah badai pendek, matahari akan bersinar lagi," kata Sinn.

Menurutnya, devaluasi akan memungkinkan Yunani menurunkan upah dan mematok harga pada tingkatan yang kompetitif. Selain memungkinkan utang bank turun. Ini tidak mungkin terjadi selama Yunani mempertahankan euro. "Rencana untuk merestrukturisasi Yunani secara radikal dalam euro adalah ilusi," kata Sinn.

Ekonom Jerman ini juga tidak bersimpati bagi bank yang membeli obligasi Yunani. Ia menilai, kreditur Yunani tidak berhak memiliki utang yang dilunasi oleh masyarakat internasional, "Setiap orang harus mendapatkan standar hidup sendiri, dan mereka yang memilih untuk mendapatkan uang dari risiko, harus menanggung risiko itu."

Tambal sulam euro pekan ini mungkin terungkap lebih cepat dari yang diharapkan. Pemilu Yunani pada April memacu negara itu untuk negosiasi ulang, yakni menolak langkah-langkah penghematan, seperti yang diisyaratkan Samaras.

Pemilihan presiden Prancis pada April dan Mei bisa membahayakan pakta fiskal baru-baru ini yang diberlakukan oleh negara-negara zona euro, karena penantang utama untuk Presiden incumbent Nicolas Sarkozy, Francois Hollande, telah berjanji untuk "negosiasi ulang" itu.

Dan Kanselir Jerman Angela Merkel, yang menekankan bahwa penghematan akan mendorong simpanan euro, tumbuh lebih lemah secara politik. Orang yang dipilih untuk seremonial presiden Jerman, Christian Wulff, harus mengundurkan diri pekan lalu, setelah kurang dari dua tahun akibat kemungkinan korupsi selama menjabat sebagai perdana menteri di Lower Saxony.

Jadi sekarang Merkel harus menerima Joachim Gauck, mantan pendeta Jerman Timur, sebagai kandidat baru untuk presiden. Ia memblokir pemilihannya pada 2010 dan mencoba lagi kali ini, tapi para pihak lainnya, termasuk mitra koalisinya, Free Democrat, memaksa pilihannya. Hal ini dilihat di Jerman sebagai kemunduran politik besar untuk Merkel.

George Orwell "1984" menggambarkan sebuah Newspeak mana "perdamaian" berarti "perang" dan "kebebasan" berarti “perbudakan”. Salah satunya tergoda untuk menambahkan “dana talangan” yang disebut Yunani ini yang berarti kebalikan dari yang mereka katakan.



Kabarkan teman anda...