Menurut Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu, untuk membayar utang Merpati dibutuhkan rencana bisnis secara komprehensif, agar operasional perseroan tidak lagi mengalami kerugian.
"Kami sudah mengundang Merpati juga PPA. Merpati diberi kesempatan untuk merinci business plan-nya agar lebih prospektif," katanya.
Ia menambahkan, dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa untuk memenuhi optimalisasi kerja Merpati, perseroan harus menambah armada. Pesawat berkapasitas kecil, jenis ATR, siap dipesan dari Eropa. Jumlah pesawat berkisar 3-4 ATR.
"2011 agar lebih prospektif lagi dengan armada baru. Mungkin 3-4 ATR dengan sistem leasing. Termasuk 1 (armada) SAAB kemungkinan juga dengan pola leasing," ujar Mustafa.
Sementara itu utang Merpati, menurut perkembangan terbaru jumlahnya berkurang menjadi Rp 1,5 triliun. Ini karena baru saja terjadi pelunasan utang kepada Bank Mandiri. Sayangnya, Said enggan merinci jumlah dana yang dibyarkan kepada Bank BUMN tersebut.
"Untuk Mandiri sudah lunas. Saya lupa jumlahnya. Jadi utang tinggal Rp 1,5 triliun. Nanti bisa diresktrukturisasi," tegas Said.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|